Tak kusangka, Surabaya akhirnya bernasib sama dengan kota-kota besar Indonesia lainnya. Setelah ku kira Surabaya bisa bertahan dalam beberapa bulan terakhir, kini Surabaya mulai terancam dengan kehadiran air yang turun dari langit ini.
Kemarin, 3 Maret 2008, turun hujan dalam kurun waktu 1,5 jam mulai pukul 12.00. Menurut sumber suarasurabaya.net, hujan akibat badai Sikolon Tropis Ophelia menimbulkan banjir di beberapa ruas jalan menjadi tergenang hingga mencapai lutut orang dewasa. Di antaranya perkampungan Kapas Krampung, Tambaksari, Ngaglik, Kapasari, dan Dharmawangsa. Yang biasanya bisa surut dalam 1 jam, kemarin baru bisa surut setelah 2 jam.
Di lain pihak, bencana lumpur lapindo juga ikut mempengaruhi bencana banjir di kota terbesar kedua di Indonesia, bahkan dapat memperparah dari apa yang terjadi pada saat ini. Menurut sumber, dengan menggunakan simulasi banjir nantinya Surabaya bagian timur akan mengalami banjir yang terparah, hal itu terjadi apabila dam lengkong di tutup dengan kata lain semua aliran air kali brantas masuk ke Surabaya.
Tak hanya sampai di situ, menurut situs kompas sistem pembuangan air di Surabaya masih menerapkan sistem irigasi bukan drainase yang semestinya dianut. Sehingga air yang seharusnya langsung dibuang ke laut harus berhenti dahulu di tambak, sawah, dll. Selain itu juga Surabaya berada di bawah permukaan laut ketika air pasang.
DIarsipkan di bawah: My Life | Ditandai: jawa timur, lingkungan hidup, surabaya










nih..makasih dah ngasi komen d blogq..
oia..nyante aja…bentar lagi surabaya dah jd kyk jakarta…trus jakarta yg tenggelam…wkwkwkw