Pada awalnya saya ingin membaca berita di sebuah alamat berita tentang dunia maya. Dan saya membaca sebuah berita, sebuah berita yang menjelaskan tentang batasan yang tidak boleh dilewati oleh seorang blogger. Isinya saya sangat setuju agar kualitas berit yang disampaikan oleh blogger terjamin dan tidak ada unsur provokasi, namun kembali lagi kepada pemerintah jangan asal bikin aturan yang mengikat kepada rakyatnya namun juga ada perbaikan di perangkat pemerintahnya.
Jangan sampai mereka hanya melarang namun mereka sendiri yang memprovokasi peperangan yang nantinya dapat menghilangkan kepercayaan rakyatnya, yang kali ini rakyat yang dimaksud adalah blogger.
Kemudian pada situs yang sama pula ada sebuah gambar unik. Tiga buah gambar yang ditaruh berjajar, gambar ke-1 dan ke-2 saya setuju. Untuk gambar yang ke-3 saya kurang setuju, mengapa ???
“Karena jelas-jelas berbeda antara Hacker dan Blogger”
Hacker
Dari Sebuah sumber
Peretas (Inggris: hacker atau cracker) adalah orang yang mempelajari, menganalisa, dan selanjutnya bila menginginkan, bisa membuat, memodifikasi, atau bahkan mengeksploitasi sistem yang terdapat di sebuah perangkat seperti perangkat lunak komputer dan perangkat keras komputer seperti program komputer, administrasi dan hal-hal lainnya , terutama keamanan.
Blogger
Menurut sumber
Blogger adalah orang yang memiliki atau memelihara suatu blog.
Seorang Blogger tidak harus pandai dalam dunia pemrograman. Bahkan sebuah komunitas blogger mengadakan sebuah lomba blogging untuk anak SMA yang notabene masih belum tahu atau tergolong belum ahli di dunia pemrograman.
Kemudian yang saya pertanyakan, apabila seseorang memiliki dua profesi yang berbeda diantaranya “guru” dan “tukang ojek” (saya ambil kasus yang memang sering terjadi), dan ketika orang tersebut berada di kelas untuk mengajar apakah orang tersebut berdiri di depan muridnya sebagai seorang “tukang ojek”. Tentu saja tidak, karena beliau sedang menebar ilmu kepada anak didiknya, dan bukan menebar asap knalpot.
Seperti halnya dengan seseorang yang dikenal sebagai hacker dan blogger. Ketika dia bertindak sebagai seorang hacker dia tidak dapat disebut sebagai seorang hacker, karena tugas seorang blogger hanya menulis di situs blognya. Karena kami tak sepandai seorang hacker yang mampu mengubah ini dan itu.
Sekarang saya tidak menyinggung siapa yang patut disalahkan dalam upaya pengrusakan situs depkominfo.go.id, karena “mereka”(kata-kata diambil dari salah seorang pakar telematika) menurut saya jelas-jelas salah. Tapi yah sebelum berkata (red: yang dimaksud adalah pakar tersebut) dipikir dulu, jangan asal tuduh kalo semisal nggak tahu artinya, anda kan lulusan luar negeri yang biasanya jadi panutan. Kalo dah tahu bakalan terjadi pengrusakan seharusnya langsung bertindak, jangan hanya mengaku menunggu di belakang, di kalangan mahasiswa ITS sering disebut mbebek, kebiasaan bebek yang senangnya mengekor dibelakang bebek lainnya.
DIarsipkan di bawah: Dunia Informatika, Nusantaraku | Tagged: bagi ilmu, indonesia, informatika, sosial










Salaaam KooMpaaaK
sebenarnya cita2 ku ingin menjadi hacker kelas dunia… tapi sekarang malah kenal blog… cita2 berubah menjadi seorang merketing …
gak nyambung..
)