Durian Merah, Durian Jingga, Durian Kuning, Enakan yang Mana Yach???

Iseng-iseng nyari wallpaper yang bagus buat desktop, eh malah ketemu sama gambar durian yang ga lazim (bagiku). Biasanya yang aku temui dan aku nikmati adalah durian berwarna kuning, maksudnya yang berwarna kuning ini daging buahnya bukan kulitnya kan yang aku nikmati bukan kulitnya. Di gambar yang aku temukan daging buahnya berwarna merah darah, tentu saja bukan darah babi atau darah anjing bahkan juga bukan darah manusia. Warnanya alami lho…

Rasa penasaran mulai memaksa tangan untuk Baca lebih lanjut

Langit Surabaya Dibersihkan oleh Hujan, Penanggungan pun Terlihat Jelas

Sebuah fenomena yang jarang terlihat membuat banyak warga kampus Teknik Informatika ITS penasaran dan berdecak kagum. Gunung-gunung yang notabene berjarak lebih dari 40 km dari kota Surabaya terlihat dengan jelas, bahkan hingga ke detail lekukan gunungnya. Puncak gunung yang gersang pun dapat terlihat dengan jelas karena memiliki warna tanah yang berbeda.

Hal ini membuat banyak mahasiswa bahkan dosen Teknik Informatika menikmati dan mengabadikan indahnya pemandangan alam ini dari lantai 2 dan 3 gedung Teknik Informatika. Disinyalir hujan yang cukup deras selama 3 hari terakhir telah menghilangkan polusi udara yang telah mengotori udara ibukota jawa timur yang telah menghalangi pandangan langsung ke gunung-gunung tersebut.

Bagiku ini adalah pengalaman pertama untuk menikmati indahnya Gunung Penanggunan dkk dari Surabaya. Sejak dahulu aku hanya bisa menikmati indahnya gunung tersebut secara samar-samar berwarna biru walaupun dari daerah rumahku yang masih sedikit tetangga.

Pemandangan unik ini berlanjut hingga malam hari, menyebabkan terlihat kelap-kelip kota di kaki gunung. Kemungkinan kota tersebut adalah Pandaan dan Probolinggo. Membuat pemandangan malam ITS semakin indah.

Setiap Sore Surabaya Diguyur Air Berkah dari Langit

Kini Surabaya tidak lagi dikenal kota panas yang seakan-akan menyiksa warganya yang penuh dengan dosa bak neraka menyiksa manusia didalamnya. Panasnya yang dulu selalu dikeluhkan oleh warga asli dan juga warga pendatang kini jarang dirasakan kembali. Karena kehadiran awan mendung yang mengguyurkan air hujan seakan-akan menjadi berkah bagi kulit yang tersiksa teriknya matahari.

Kini tak terlihat lagi arek-arek Suroboyo yang bermandikan keringat karena kepanasan. Karena hawa dingin telah datang seiring dengan datangnya musim hujan yang dirasa terlambat kedatangannya. Di penghujung tahun ini, warga Surabaya dipaksa untuk menggunakan selimut untuk menahan suhu tubuhnya agar nantinya tidak menggigil ketika bangun dari tidurnya.

Apakah air hujan ini akan menjadi berkah bagi warga Surabaya???

Semoga saja. Semoga manusia yang penuh dengan khilaf ini tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan sebelumnya. Mereka yang dulunya berbuat kesalahan dengan sengaja maupun tidak sengaja telah menghambat aliran air menuju ke hilir sungai kini tak lagi melakukan hal sama guna menikmati siksaan banjir yang sama dengan di masa lalu.

Kenapa Bromo Disebut Taman Nasional

Sebenarnya pertanyaan ini timbul dalam pikiranku, setelah membaca sebuah artikel di wikipedia yang membahas tentang Jawa Timur. Dalam artikel itu tempat pariwisata Gunung Bromo tidak terdaftar dalam sub-bab pariwisata, namun tergolong dalam sub-bab kawasan lindung. Padahal menurut saya yang pernah beberapa kali ke sana, di sana hanya ada lautan pasir yang sama sekali tidak cocok untuk tempat melindungi satwa langka. Layaknya kawasan lindung yang mayoritas merupakan tempat-tempat yang aman untuk melingdungi satwa-satwa yang tergolong dilindungi.

Kemudian saya mencari beberapa data tentang satwa yang dilindungi di kawasan ini. Dan ternyata fakta yang saya dapat adalah, kawasan lindung yang dimaksud adalah taman nasional yang tidak hanya melingkupi kawasan Gunung Bromo saja namun juga meliputi kawasan Gunung Semeru.

Pengertian taman nasional sendiri adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata dan rekreasi.(sumber)

Kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1982 oleh menteri pertanian dan kemudian diperkuat denga turunnya keputusan menteri kehutanan pada tahun 1997, dengan luas wilayahnya sekitar 50.276,3 ha dengan nama Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kawasan ini melingkupi wilayah administratif Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo.

Klik di gambar untuk memperbesar

Kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di kawasan ini difokuskan di Ranu Kumbolo. Terutama bagi para pengamat lingkungan, Ranu Kumbolo merupakan laboratorium alam yang cocok bagi kegiatan penelitian dan observasi lapangan yang sarat dengan kandungan ilmu pengetahuan. Fasilitas yang ada di Ranu Kumbolo yaitu Pondok Pendaki (70 M2) dan MCK yang dimanfaatkan para pendaki untuk beristirahat, disamping terdapatnya lapangan yang relatif datar untuk sarana berkemah. Kebutuhan air dapat terpenuhi dari air danau. (sumber)

Sedangkan untuk kegiatan pariwisata dan rekreasi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terbagi menjadi dua komplek, yaitu komplek semeru dan komplek bromo tengger. Pariwisata komplek semeru didominasi oleh pariwisata sejarah dan pariwisata jelajah alam, sedangkan komplek bromo tengger didominasi pariwisata budaya dan pariwisata keindahan alam.

Alasan lain perubahan status wilayah ini menjadi taman nasional adalah untuk melindungi flora dan fauna yang tergolong langka. Antara lain luwak (Paradoxurus hermaproditus), trenggiling (Manis javanica), kera hitam (Presbytys cristata), rusa (Cervus timorensis), kijang (Muntiacus muntjak), ayam hutan (Gallus gallus), cemara gunung (Casuarina junghuniana), pakis-pakisan (Sphagum sp), jamuju (Podocarpus imbricatus.) dan jenis rumput yang langka (Styphelia pungues) yang merupakan satu-satunya jenis rumput yang endemik di Pulau Jawa yang keseluruhannya perlu dilindungi dan dilestarikan.

Elpiji Jadi Bahan Bakar Kendaraan

Sebelum ini saya sempat membaca berita di koran Jawapos, tentang penggunaan elpiji sebagai bahan bakar kendaraan di negeri timur tengah (Irak atau Palestina, maaf saya lupa) hal itu dilakukan warga setempat karena blokade pihak Israel terhadap pasokan BBM ke negeri tersebut. Beberapa hari kemudian saya juga sempat mendengarkan sebuah berita di Metro TV yang memberitakan tentang orang Indonesia yang berhasil memanfaatkan gas elpiji sebagai bahan bakar sepeda motornya sebagai pengganti bensin yang harganya hendak dinaikkan.

Sejak saat itu saya tertarik untuk mencaritahu tentang kemungkinan penggunaan elpiji sebagai bahan bakar kendaraan untuk mengantisipasi kelangkaan BBM. Dan saya mendapat informasi bahwa sebenarnya negara-negara di Eropa sempat tertarik untuk memperlajari hal tersebut, dan bahkan saat itu elpiji sempat diajukan sebagai bahan bakar pengganti bensin, yang dipercaya lebih ramah lingkungan. Jika menyinggung tentang ramah lingkungan kita pasti ingat dengan BBG(Bahan Bakar Gas) yagn dikenal sebagai bahan bakar kendaraan paling ramah lingkungan, namun saya akan mencoba membandingkan BBG(Bahan Bakar Gas) dan LGV(liquiefied gas for vehicle/elpiji) serta BBM(Bahan Bakar Minyak).

Sumber kompas.com
Kelebihan Elpiji dibandingkan BBG :
Kapasitas tangki BBG hanya sekitar 17 liter setara premium (LSP), sementara LGV bisa menampung 40 LSP. Dengan demikian, mobilitas kendaraan yang menggunakan LGV sama dengan kendaraan yang menggunakan solar atau premium. Tekanan gas elpiji dalam bentuk cair lebih rendah daripada BBG sehingga berat tangki LGV hanya setengah dari BBG. Kelebihan ini akan menguntungkan pemilik kendaraan karena selama ini berat tangki cukup membebani pengguna bahan bakar gas. Dengan demikian, mobil yang menggunakan LGV bisa bergerak sebebas mobil yang menggunakan BBM.

Kelebihan Elpiji dibandingkan BBM :

Hasil uji coba yang dilakukan Pertamina dengan Institut Teknologi Bandung yang menggunakan LGV untuk Toyota Vios menunjukkan Baca lebih lanjut

Surabaya Sekarang Tergenang, Esok Tenggelam

Tak kusangka, Surabaya akhirnya bernasib sama dengan kota-kota besar Indonesia lainnya. Setelah ku kira Surabaya bisa bertahan dalam beberapa bulan terakhir, kini Surabaya mulai terancam dengan kehadiran air yang turun dari langit ini.

Kemarin, 3 Maret 2008, turun hujan dalam kurun waktu 1,5 jam mulai pukul 12.00. Menurut sumber suarasurabaya.net, hujan akibat badai Sikolon Tropis Ophelia menimbulkan banjir di beberapa ruas jalan menjadi tergenang hingga mencapai lutut orang dewasa. Di antaranya perkampungan Kapas Krampung, Tambaksari, Ngaglik, Kapasari, dan Dharmawangsa. Yang biasanya bisa surut dalam 1 jam, kemarin baru bisa surut setelah 2 jam.

Di lain pihak, bencana lumpur lapindo juga ikut mempengaruhi bencana banjir di kota terbesar kedua di Indonesia, bahkan dapat memperparah dari apa yang terjadi pada saat ini. Menurut Baca lebih lanjut

Penghijauan di Jalan Tol

Beberapa saat yang lalu saya membaca sebuah berita. Di saat yang sama, teman saya menceritakan berita yang dia dengar melalui Suara Surabaya (salah satu stasiun radio terkemuka di Surabaya) dalam perjalanan dari Malang menuju Surabaya.

Dia menceritakan tentang sebuah program penghijauan yang diadakan oleh Pemkot Surabaya yang diadakan di jalan tol. Pertama kali mendengar saya sangat kagum terhadap komitmen pemerintah saat ini terhadap lingkungan hidup, tetapi setelah mendenger kelanjutan ceritanya saya sungguh terpukul karena komitmen tersebut tidak sebanding dengan kemampuan pihak bersangkutan untuk mengadakan acara tersebut.

Program penanaman pohon di pinggir jalan tol ini mengundang 50ribu siswa, jumlah itu jauh melebihi jumlah tananam yang tersedia yang terhitung hanya seribuan pohon. Dengan mudah diduga, banyak siswa yang menganggur dan karena berada di pinggir jalan tol yang dilalui oleh kendaraan berkecepatan tinggi maka keselamatan mereka pun menjadi terancam.

Yang dibuat kecewa tidak hanya siswa yang terlanjur datang, namun juga orang tua mereka dan juga tentu saja Bambang DH (Wali Kota Surabaya) yang bertanggungjawab penuh atas berlangsungnya kegiatan ini.

Sebuah berita yang mencerminkan keamburadulan pejabat sekarang. Mereka dipercaya dan diberi kesempatan untuk membawa masyarakat ke perubahan yang lebih baik, justru kini masyarakat menjadi korban karena ketidakmampuan mereka.

Kalo tidak mampu mending turun aja………….

Masak bisanya makan duit rakyat tapi tidak ada timbal baliknya………