Malam Tahun Baru 2009 di Bromo

Dari judulnya sudah jelas pengalaman ini aku alami waktu sehari sebelum tanggal 1 Januari 2009. Tapi sayangnya koq baru aku posting sekarang ya…tanya kenapa???

Perjalanan panjang dari Surabaya hingga Probolinggoku yang kedua bersama teman-teman kuliah ini bisa dibilang sedikit nekat, persiapannya hanya 2 hari sebelum pemberangkatan. Dan kami juga terpaksa mengajak beberapa teman saja, dan yang tentu saja memancing kekecewaan teman laen yang terpaksa tidak kami ajak. Tim kami bermula berjumlah 6 orang, yakni Fitra, Septian, Haris, Andre, CB(bukan nama sebenarnya), dan tentu saja aku. Namun beberapa menit sebelum berangkat Haris mengundurkan diri.

Rute yang kami rencanakan untuk dikunjungi : Penanjakan, Padang Savana, Lautan Pasir, Kawah Bromo, Air terjun Madakaripura.

Menuju ke Probolinggo

Jumlah minus satu dari rencana tidak menjadikan kami patah arang, maklum kami tidak punya arang buat di patahin. Kami pun berangkat dengan 3 motor kesayanganku, fitra dan CB. Berangkat tanggal 31 Desember 2008 pukul 9, menyusuri keajaban alam lumpur lapindo yang kepetulan tidak macet, trus kami melalui Gempol dan kemudian menuju ke Pasuruan.

Sesampainya di Pasuruan perjalanan kami terhambat oleh truk-truk yang memang jalannya lambat. Jalan menuju bromo sebenarnya tidak terlalu sulit, setelah masuk gerbang Pasuruan kita hanya perlu jalan terus menuju timur hingga kita mencapai desa Tongas, setelah mencapai Tongas kita baru merubah arah belok kanan dan kita kembali ikuti jalur hingga mencapai Bromo. Tanpa istirahat kami terus memacu kendaraan kami untuk menghindari hujan. Di bawah ini aku kasih juga peta Probolinggo agar ga tersesat… Baca lebih lanjut

Kenapa Bromo Disebut Taman Nasional

Sebenarnya pertanyaan ini timbul dalam pikiranku, setelah membaca sebuah artikel di wikipedia yang membahas tentang Jawa Timur. Dalam artikel itu tempat pariwisata Gunung Bromo tidak terdaftar dalam sub-bab pariwisata, namun tergolong dalam sub-bab kawasan lindung. Padahal menurut saya yang pernah beberapa kali ke sana, di sana hanya ada lautan pasir yang sama sekali tidak cocok untuk tempat melindungi satwa langka. Layaknya kawasan lindung yang mayoritas merupakan tempat-tempat yang aman untuk melingdungi satwa-satwa yang tergolong dilindungi.

Kemudian saya mencari beberapa data tentang satwa yang dilindungi di kawasan ini. Dan ternyata fakta yang saya dapat adalah, kawasan lindung yang dimaksud adalah taman nasional yang tidak hanya melingkupi kawasan Gunung Bromo saja namun juga meliputi kawasan Gunung Semeru.

Pengertian taman nasional sendiri adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata dan rekreasi.(sumber)

Kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1982 oleh menteri pertanian dan kemudian diperkuat denga turunnya keputusan menteri kehutanan pada tahun 1997, dengan luas wilayahnya sekitar 50.276,3 ha dengan nama Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kawasan ini melingkupi wilayah administratif Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo.

Klik di gambar untuk memperbesar

Kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di kawasan ini difokuskan di Ranu Kumbolo. Terutama bagi para pengamat lingkungan, Ranu Kumbolo merupakan laboratorium alam yang cocok bagi kegiatan penelitian dan observasi lapangan yang sarat dengan kandungan ilmu pengetahuan. Fasilitas yang ada di Ranu Kumbolo yaitu Pondok Pendaki (70 M2) dan MCK yang dimanfaatkan para pendaki untuk beristirahat, disamping terdapatnya lapangan yang relatif datar untuk sarana berkemah. Kebutuhan air dapat terpenuhi dari air danau. (sumber)

Sedangkan untuk kegiatan pariwisata dan rekreasi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terbagi menjadi dua komplek, yaitu komplek semeru dan komplek bromo tengger. Pariwisata komplek semeru didominasi oleh pariwisata sejarah dan pariwisata jelajah alam, sedangkan komplek bromo tengger didominasi pariwisata budaya dan pariwisata keindahan alam.

Alasan lain perubahan status wilayah ini menjadi taman nasional adalah untuk melindungi flora dan fauna yang tergolong langka. Antara lain luwak (Paradoxurus hermaproditus), trenggiling (Manis javanica), kera hitam (Presbytys cristata), rusa (Cervus timorensis), kijang (Muntiacus muntjak), ayam hutan (Gallus gallus), cemara gunung (Casuarina junghuniana), pakis-pakisan (Sphagum sp), jamuju (Podocarpus imbricatus.) dan jenis rumput yang langka (Styphelia pungues) yang merupakan satu-satunya jenis rumput yang endemik di Pulau Jawa yang keseluruhannya perlu dilindungi dan dilestarikan.

Jatuh bangkit ke kawah ijen…

Sebenarnya postingan dibawah ini bukanlah tulisan saya, namun tulisan dari Tosa yang telah diedit oleh Fitra. Crita di bawah ini merupakan kisah perjalanan kami menuju puncak gunung Ijen.

Kamis 23 juli 2008 pagi berangkat dari Surabaya menuju kawah ijen bersama rombongan teman2 satu angkatan (Akbar, fitra, yudhi, farma, septian, yoga, haris) dan membawa 4 motor berboncengan. Kami berangkat dari kos2an jam setengah 9 pagi. Langsung saja kami menuju Sidoarjo, jalan di sana relatif tidak terlalu macet dan tentu saja melewati porong. Dalam benak kami pasti di sini kami mendapatkan kemacetan, dan luar biasanya jalanan porong pada saat itu sepi tidak seperti biasanya.

Lalu kami langsung menuju Pasuruan untuk selanjutnya kami menuju Probolinggo. Jalan antar kota seperti biasa sangatlah lapang sehingga kami bisa meng”geber” sepeda kami sampai 80 / 90 km per jam. Keluar dari probolinggo kami menuju situbondo. Kami sempat mampir sebentar di Paiton hanya untuk sekedar foto2 (mumpung masih muda…ha ha ha…), lumayan agak lama juga.

Setelah itu kami melewati pantai Bentar dan sempat mampir untuk sholat Dhuhur di masjid di dekat situ dan Pasir putih. Di probolinggo terdapat lumayan banyak obyek wisata yang bisa di kunjungi seperti Baca lebih lanjut

Soto Dhog Terkenal di Jombang

Jombang Kota Beriman, memiliki sebuah ikon kota yang bernama “ringin contong”. Di dekat ringin contong inilah ada tempat makan yang terkenal bagi orang asli Jombang baik yang masih tinggal di sana maupun yang sudah merantau ke kota lain. Tempat makan tersebut hanya menjual soto dhog. Tempat makan yang mengutamakan kesederhanaan, membuat banyak orang yang memiliki kenangan akan tempat ini merasa nyaman.

Tempatnya tidak luas, karena dibuka di teras di depan sebuah rumah. Tersedia dua meja yang di atasnya terdapat beberapa piring yang berisi lauk pauk (perkedel, hati sapi, paru sapi, dll), dan kita dibebaskan untuk memilih sendiri lauknya begitu pula jumlahnya. Salah satu mejanya langsung berhadapan dengan penjual, sedangkan meja yang lain di atasnya diletakkan berbagai macam minuman, diantaranya sinom, minuman bersoda, dll. Untuk tempat duduknya tidak disediakan tempat duduk individu, namun 4 tempat duduk panjang yang masing-masing bisa muat untuk 3 hingga 4 orang.

Makanan yang ditawarkan menurutku tidak cukup untuk memuaskan rasa laparku, namun bagi seorang perempuan menu itu sudah cukup untuk meng Baca lebih lanjut

Sewa Penginapan di Bromo

Ada banyak cara untuk menikmati keindahan Gunung Bromo, namun akan dapat anda rasakan semua dalam satu hari saja. Maka anda harus bermalam minimal untuk dua hari satu malam. Karena wisata yang terkenal dari bromo adalah sun rise yang tentu saja hanya bisa dilihat di pagi hari, dimana pemberangkatannya menggunakan jip dari pukul 2 pagi.

Ada berbagai tempat penginapan bisa anda pergunakan. Mulai dari penginapan yang menyewakan perkamar hingga losmen yang sangat cocok bagi anda yang berombongan besar. Harganya pun dapat anda sesuaikan dengan kemampuan anda, karena ada yang bertaraf internasional yang mengutamakan kenyamanan di atas harga dan juga ada yang tidak mudah menguras kantong anda namun tidak mengabaikan kenyamanan, namun tentu saja fasilitas yang ditawarkan akan berbeda.

Ada sebuah tips bagi anda rombongan yang menginginkan nyamannya kebersamaan namun masih menginginkan harga miring Baca lebih lanjut

Ketika Banci Foto Pergi ke Bromo

Hari minggu tanggal 20 Januari sekelompok pria tulen sedang berkumpul untuk persiapan melakukan perjalanan jarak jauh menuju Gunung Bromo, Probolinggo. Mereka yang terdiri dari aku(Akbar), Andre, Fitra, Tosa, dan Septian rela meluangkan hari minggunya untuk melakukan survey sekaligus negosiasi harga penginapan di Bromo.

jalan_menuju_bromoMelakukan perjalanan jauh dari Surabaya, mereka tergolong nekat, dengan membawa uang seadanya yang penting cukup buat makan dan bensin, serta tidak membawa perlengkapan apa-apa. Justru yang diutamakan adalah membawa kamera foto. Kami berlima membawa tiga kamera digital dan sebuah kamera video. Setelah siap dan semua anggota telah berkumpul kami sepakati berangkat dengan terlebih dahulu membeli bensin di pom bensin jalan Arif Rahman Hakim. Kami terus berjalan tidak ada henti, menyusuri jalanan dari satu kota menuju kota lainnya berharap agar segera menemukan tempat nyaman untuk berfoto bersama.

Di tengah perjalanan paman(a.k.a Septian) merasa harus berhenti untuk Baca lebih lanjut

Pasar Ikan Hias di Jalan Irian Barat

Ada sebuah pasar malam di Surabaya yang kebanyakan pedagangnya menjual ikan. Pasarnya memang cocok disebut pasar malam karena bukanya emang malam-malam, tepatnya mulai buka pukul 23.00. Pasar ini berada di Jalan Irian Barat, dekatnya pasar keputran, di sebelah aliran kali brantas. Irian Barat? Pasti muncul konotasi negatif tentang Irian Barat, terutama orang asli Surabaya. Ga salah koq, Irian Barat kini sudah disulap jadi pasar ikan hias yang konon katanya didatangkan langsung dari pemasoknya.

Lebih serunya lagi di pasar malam ini tak hanya menjual ikan hias saja, namun berbagai macam hewan peliharaan. Kemarin waktu saya pergi ke sana, saya melihat pedagang kucing, kelinci, marmut, monyet kecil, tanaman hias, peralatan akuarium. Untuk ikan hias yang dijual tak hanya Baca lebih lanjut