Promosikan Seminar Pendidikan anda GRATIS di sini!!!

Jika anda berminat atau membutuhkan promosi terhadap seminar pendidikan yang anda atau organisasi anda selenggarakan. Saya sebagai administrator blog ini menawarkan kerjasama, tanpa akan menarik uang sepeserpun kepada acara yang akan anda selenggarakan atau kepada anda yang menyelenggarakan.

Cukup hubungi saya, dengan mengirimkan detail seminar yang akan anda jalankan. Semisal : tempat, waktu, harga tiket masuk, tema, pembicara, contact person.

Syaratnya adalah :

  • Merupakan sebuah seminar yang bertemakan pendidikan
  • Lebih mengutamakan mencerdaskan bangsa daripada profit oriented
  • Mau dan mampu bertanggung jawab atas penyelenggaraan seminar yang akan dipromosikan
  • Seminar yang diselenggarakan tidak akan merusak persatuan bangsa dan tidak akan melanggar hukum yang berlaku di Negara Indonesia

Kenapa Bromo Disebut Taman Nasional

Sebenarnya pertanyaan ini timbul dalam pikiranku, setelah membaca sebuah artikel di wikipedia yang membahas tentang Jawa Timur. Dalam artikel itu tempat pariwisata Gunung Bromo tidak terdaftar dalam sub-bab pariwisata, namun tergolong dalam sub-bab kawasan lindung. Padahal menurut saya yang pernah beberapa kali ke sana, di sana hanya ada lautan pasir yang sama sekali tidak cocok untuk tempat melindungi satwa langka. Layaknya kawasan lindung yang mayoritas merupakan tempat-tempat yang aman untuk melingdungi satwa-satwa yang tergolong dilindungi.

Kemudian saya mencari beberapa data tentang satwa yang dilindungi di kawasan ini. Dan ternyata fakta yang saya dapat adalah, kawasan lindung yang dimaksud adalah taman nasional yang tidak hanya melingkupi kawasan Gunung Bromo saja namun juga meliputi kawasan Gunung Semeru.

Pengertian taman nasional sendiri adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata dan rekreasi.(sumber)

Kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1982 oleh menteri pertanian dan kemudian diperkuat denga turunnya keputusan menteri kehutanan pada tahun 1997, dengan luas wilayahnya sekitar 50.276,3 ha dengan nama Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kawasan ini melingkupi wilayah administratif Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo.

Klik di gambar untuk memperbesar

Kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di kawasan ini difokuskan di Ranu Kumbolo. Terutama bagi para pengamat lingkungan, Ranu Kumbolo merupakan laboratorium alam yang cocok bagi kegiatan penelitian dan observasi lapangan yang sarat dengan kandungan ilmu pengetahuan. Fasilitas yang ada di Ranu Kumbolo yaitu Pondok Pendaki (70 M2) dan MCK yang dimanfaatkan para pendaki untuk beristirahat, disamping terdapatnya lapangan yang relatif datar untuk sarana berkemah. Kebutuhan air dapat terpenuhi dari air danau. (sumber)

Sedangkan untuk kegiatan pariwisata dan rekreasi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terbagi menjadi dua komplek, yaitu komplek semeru dan komplek bromo tengger. Pariwisata komplek semeru didominasi oleh pariwisata sejarah dan pariwisata jelajah alam, sedangkan komplek bromo tengger didominasi pariwisata budaya dan pariwisata keindahan alam.

Alasan lain perubahan status wilayah ini menjadi taman nasional adalah untuk melindungi flora dan fauna yang tergolong langka. Antara lain luwak (Paradoxurus hermaproditus), trenggiling (Manis javanica), kera hitam (Presbytys cristata), rusa (Cervus timorensis), kijang (Muntiacus muntjak), ayam hutan (Gallus gallus), cemara gunung (Casuarina junghuniana), pakis-pakisan (Sphagum sp), jamuju (Podocarpus imbricatus.) dan jenis rumput yang langka (Styphelia pungues) yang merupakan satu-satunya jenis rumput yang endemik di Pulau Jawa yang keseluruhannya perlu dilindungi dan dilestarikan.

Mahasiswa Tak Lagi Menjadi Mahasiswa

Dunia pendidikan Indonesia kembali harus menguraikan air mata, dikarenakan beberapa anak bangsa yang nantinya diharapkan mengembalikan kejayaan Indonesia justru meninggalkan dunia yang fana ini dengan tragis. Beberapa mahasiswa lainnya juga dikabarkan mengalami kritis karena telah menjadi korban kegarangan mahasiswa lainnya. Mereka adalah korban dari sikap sok jagoan dari mahasiswa yang tidak mau bertanggung jawab, yang menjadikan solidaritas sebagai alasan tawuran dengan kelompok mahasiswa lainnya.

Melupakan kodrat mahasiswa sebagai Agent of change, Iron Stock, Social Control, dan Moral Force. Atau malah mereka tidak tahu tugas yang akan diemban ketika status mereka sebagai seorang pelajar telah berubah dari siswa menjadi “Maha”siswa. Mereka tak ubahnya preman yang mengedepankan emosi dan nafsu, dan mengesampingkan untuk berpikir secara cerdas sebagai lambang intelektual seorang mahasiswa.

Sungguh miris, ketika kita melihat perbadaan antara apa yang telah dijuangkan mahasiswa dahulu dengan apa yang diperebutkan mahasiswa sekarang. Tentunya kita masih ingat tentang tragedi semanggi, dimana banyak mahasiswa menjadi korban egoisme penguasa yang tidak mau melihat realita masyarakat nusantara. Hingga menggerakkan seluruh mahasiswa untuk membuat satu gerakan bersama demi Indonesia tercinta. Tak Jauh beda dengan pergerakan beberapa mahasiswa saat ini, dengan dalih membela teman mereka turun ke jalan, meneriakkan kemenangan mengorbankan semua yang ada di sekitarnya tak terkecuali orang-orang yang tidak tahu menahu bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan mereka dan tindakan mereka. Bahkan aparat kepolisian dan wartawan pun tak luput dari amukan luapan emosi mereka.

Sungguh miris, ketika warga negara Indonesia lainnya yang kurang beruntung karena tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang perkuliahan dikarenakan permasalahan ekonomi, justru mereka yang berduit dan menjadi mahasiswa justru membuang-buang waktu mereka dengan suatu tindakan kriminal yang dapat merugikan orang lain.

sumber :
http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=33411

http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2003/10/17/brk,20031017-04,id.html
http://www.kapanlagi.com/h/0000260148.html
http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDQ3MTc=

Ayam Kampus Bertelor Dimana-mana

Suatu pagi aku sempet membaca sebuah surat kabar. Di dalamnya dibahas sebuah kisah nyata tentang kehidupan ganda seorang mahasiswi yang benar-benar berbeda antara kehidupan siang dan malamnya. Ketika matahari muncul untung memberikan cahayanya, sang mahasiswi bertindak selayaknya mahasiswi di kampus-kampus. Belajar menuntut ilmu agar mudah dalam mencapai sebuah tujuan yang mulia.

Namun ketika senja mulai lenyap dan tergantikan suasana malam yang gelap, dia langsung berubah dari seorang gadis baik-baik yang bertindak tanduk sewajarnya pelajar, menjadi seseorang yang mampu “menghidupkan” suasana malam yang tenang menjadi suasana yang gaduh karena girangnya orang-orang yang melihat kemolekan tubuhnya.

Berselang beberapa hari di sebuah Baca lebih lanjut